![]() |
| Petugas melakukan pengisian bahan bakar Pertamax di SPBU Kalideres, Jakarta Barat, Kamis (4/12). (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga) |
“Yang bilang Pertamina sanggup itu siapa? Apakah hanya staf yang dikumpulkan Pak Faisal atau sudah surat tertulis?,” ujar Sofyano kepada Faisal Basri, Ketua tim yang juga dikenal sebagai tim Antimafia Migas dalam sebuah acara diskusi di Jakarta, Sabtu (27/12).
Sofyano mengingatkan, rakyat akan dirugikan jika Pertamina ternyata tidak siap memproduksi atau mengadakan pertamax untuk menggantikan premium yang sesuai rekomendasi Faisal Basri dan kawan-kawan tidak perlu lagi didistribusikan oleh Pertamina.
“Ingat, yang bakalan rugi nantinya kalau Pertamina tidak siap adalah rakyat! Bukan Pak Faisal dan timnya! Saya kira itu omong doank! Harus dikaji dulu,” kata Sofyano.
Selain itu, rekomendasi penghapusan jenis bensin RON 88 atau premium seperti rekomendasi tim Antimafia Migas disebutnya bisa mengusik kredibilitas lembaga lain.
“Badan Pemeriksa Keuangan tidak pernah menemukan kejanggalan yang berakibat kerugian negara dari distribusi bensin RON 88. BPH Migas juga masih menganjurkan, karena ternyata RON 88 masih ada di Mesir dan Rusia. Sebaiknya kita pakai range saja RON 88 sampai 92, tapi yang RON 88 tidak boleh impor,” jelasnya.
Kesiapan Pertamina
Mendapat kritikan akan kredibilitas tim yang dipimpinnya dalam melahirkan suatu rekomendasi, Faisal Basri kemudian melancarkan serangan balik. Menurut Faisal, enam rekomendasi yang diserahkan tim Antimafia Migas kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said dua pekan lalu sudah melalui konfirmasi kepada Pertamina.
“Yang bilang Pertamina siap adalah Direktur Pengolahan mereka. Ada datanya yang mendukung kok. Jadi yang bilang itu petinggi Pertamina dengan membawa logo Pertamina, bukan asal asalan. Pertamina menurut mereka bisa kok bikin Pertamax sampai 5 juta barel per bulan dengan peremajaan kilang,” kata Faisal.
Dia menambahkan justru dengan menjual pertamax ke masyarakat, Pertamina bisa lebih untung dan hemat karena tidak harus melalui lebih banyak lagi proses pengolahan di kilang seperti sebelumnya memproduksi bensin RON 88 atau premium.
Sumber: CNN Indonesia

0 comments:
Post a Comment